like

Kamis, 24 Mei 2012

Bahaya Hadits "Isro' Mi'roj"


Bismillahirohmanirrohim...

Bertepatan saat ini adalah bulan Rojab, bulan dimana terjadi peristiwa yang sangat dahsyat sepanjang zaman, yaitu peristiwa "Isro' Mi'roj"

Salah satu ayat yang sudah tenar menjelaskan isro' mi'roj adalah: QS. Al-Israa':1
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”

Melihat Ayat di atas, tdak dipungkiri lagi bahwa Isro' Mi'roj merupakan perjalanan yang maha dahsyat. Banyak beda pendapat tentang bagaimana terjadinya peristiwa perjalanan yg maha dahsyat ini, ada yg berpendapat hanya ruhnya saja , ada yg berpendapat dengan jasad dan ruhnya dgn menafsirkan kalimat "biabdihi"[seperti yg diungkapkan oleh Agus Mustofa dalam bukunya Terpesona di Sidrotul Muntaha].
namun kali ini saya tidak bermaksud membahas bagaimana proses perjalanan maha dahsyat tersebut, tetapi mencoba mengkritisi cerita yang sudah lazim di masyarakat tentang Isro' Mi'roj yang berhubungan dengan Perintah Sholat.

Umumnya para penceramah menerangkan hikmah dari peristiwa Isra’ Miraj adalah turunnya perintah sholat 5 waktu. Bahkan ada keikut sertaan Nabi Musa a.s dalam penerimaan perintah tersebut. Hal tersebut berdasarkan sebuah hadits isinya cukup panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya nomor 234 dari jalan Anas bin Malik.
Kisah dalam Hadits tersebut dijelaskan beliau menerima kewajiban 50 shalat kemudian atas saran Nabi Musa a.s sehingga berkali-kali Nabi saw 'naik-turun' memintak keringanan shalat kepada Allah swt.
Namun benarkah demikian ?

Melalui penelaahan hadits, secara riwayat adalah shahih karena terdiri dari para perawi yang tsiqoh (dipercaya). Akan tetapi secara matan (isinya) sebagian bertentangan dengan Al Quran dan hadits lainnya yang shahih.
Dengan demikian kedudukan hadits tersebut adalah dhoif (lemah) dan mualal (sisipan) karena isinya diselipkan cerita – cerita Israiliyat dari kaum Bani Israil, yang sengaja secara tersirat ingin mengagungkan bangsa mereka, serta mengecilkan peran Nabi Muhammad beserta pengikutnya.

Keganjalan hadits tersebut :

  1. Perintah sholat 5 waktu, padahal perintah sholat terjadi pada tahun 1 kenabian.
  2. Yang menjadi subjek memperjalankan Rasulullah Muhammad dalam Peristiwa Isra’ (perjalanan) yang bermakna Mi’raj (naik melalui tangga – tangga) adalah Allah Subhanahuta’ala (Qs.al-Israa' : 1), Dia yang Maha Berkehendak. Sedangkan di dalam hadits tersebut, diceritakan Nabi Musa yang menyuruh Nabi Muhammad untuk naik – turun sebanyak sembilan kali, guna mendapat pengurangan perintah sholat dari 50 rakaat menjadi 5 rakaat.
  3. Nampak pula dalam kisah palsu ini seolah Nabi Musa begitu perkasanya dan berilmu sehingga mampu mendikte Allah sehingga menuruti pandangan Musa a.s dalam hal perintah sholat.
  4. Keganjilan tampak jelas dalam hadit ini, bahwa sebelum menuju langit Rosulullah sholat dua rakaat di Baitul Maqdis, sedangkan menurut kisah hadis tersebut, perintah sholat belum diterima.
  5. Dalam hadits ini menggambarkan bahwa Para Nabi yang sudah wafat sudah berada di langit. tetapi menurut al-Qur'an seluruh manusia termasuk para Nabi yang sudah wafat berada di alam Qubur / Barzakh / dinding yang membatasi Alam Dunia dan Akhirat. Ulama menyebutnya alam genggaman Allah atas dasar Surah Azzumar ayat 42 untuk menunggu datangnya Hari Berbangkit (Qs.Kahfi: 47)
Mengkritisi Hadits Isro' Mi'roj Diatas.
*Perintah sholat 5 waktu*
Untuk sama dipahami, kewajiban sholat sudah ditetapkan Allah pada tahun awal Kenabian dengan turunnya surah al Muzammil ayat 1 – 9, jauh sebelum turunnya Surah Al Isra pada tahun ke empat Kerasulan. Logikanya pada ayat tersebut, perintah Sholat telah diterima oleh Nabi Muhammad saw, bukan saat beliau Isra dan Miraj namun jauh sebelum itu, apalagi secara obyektif ayat al-Quran yang menceritakan mengenai peristiwa Miraj sama sekali tidak menyinggung tentang adanya pemberian perintah Sholat kepada Nabi [Lihat QS.al-israa:1 dan QS.an-Najm:13-18]

*Dikatakan bahwa Nabi Musa telah mengusulkan kepada Nabi Muhammad*
agar naik kembali menemui ALLAH untuk memohon perintah Shalat dikurangi dari 50 kali menjadi 5 kali sehari. Dalam hal ini timbul pertanyaan, apakah Nabi Musa lebih cerdas daripada Muhammad?
Tidakkah kekurang ajaran arwah Nabi Musa dalam cerita tersebut dengan menganggap Allah juga tidak mengerti akan kelemahan dan keterbatasan umat Nabi Muhammad sebab tanpa dipikir dulu telah memberi beban kewajiban yang pasti tidak mampu dikerjakan oleh mereka sehingga arwah Nabi Musa itu harus turut campur memberi peringatan kepada Allah dan Nabi Muhammad lebih dari sekali saja sebagai suatu indikasi israiliyat (hadis buatan orang-orang Israel atau Yahudi yang sengaja dibuat untuk tetap memuliakan Nabi Musa diatas yang lain) ?
Sebaiknya orang-orang Islam mempertimbangkan masak-masak sebelum membenarkan dongeng tak teranalisakan itu.
*Dikatakan Nabi Muhammad naik kembali menemui ALLAH*
untuk memohon agar perintah Shalat 50 kali sehari dikurangi dan dikurangi hingga menjadi 5 kali sehari, yaitu sepuluh persen dari jumlah yang ditetapkan bermula.
Semisalnya seorang pedagang menyatakan harga barangnya 50 rupiah kemudian sesudah tawar-menawar, barang itu dijualnya 5 rupiah, maka pada otak si pembeli akan timbul suatu anggapan bahwa pedagang itu sangat kejam atau kurang waras. Sebaliknya pedagang waras yang menghadapi penawar barangnya sepuluh persen dari harga yang ditetapkannya, tentu tidak akan meladeni penawar itu karena dianggapnya kurang waras.
Dalam pada itu QS.Maidah:115, QS.Yusuf:64, menyatakan tiada perubahan bagi Kalimat ALLAH, dan QS.Al-Ahzab:62, QS.al-Faathir:43, menyatakan tiada perubahan bagi Ketentuan ALLAH dan QS.Ar-Ruum:30 menyatakan tiada perubahan bagi Ciptaan ALLAH.
Jika masih berlaku tawar-menawar antara Muhammad dan ALLAH mengenai jumlah Shalat setiap hari, tentulah pernyataan ALLAH pada beberapa Ayat Suci tersebut tidak benar. Namun menurut pemikiran wajar, tidaklah mungkin berlaku tawar-menawar antara Khaliq dan makhIuk-NYA

*Bertentangan dengan Akhlak Nabi Muhammad saw dalam Al-Qur'an*
Nabi Muhammad adalah semulia para Nabi serta berbudi pekerti yang sangat luhur [QS.Al-Qolam:4]. tentunya beliau tidak pernah membantah atau minta dispensasi (pengurangan) tugas dari Allah. Sedangkan yang biasa menawar dan membantah perintah Allah dan rasulNya sejak dahulu adalah orang kafir dari Bani Israil. Fakta ini dapat kita temukan dalam nash Al Quran [seperti perintah Musa a.s kepada kaumnya 'bani isroil' untuk menyembelih sapi] dan jga banyak terdapat dalam Hadits yang shahih. Maka mustahil Nabi saw, mengadakan tawar menawar kepada Musa apalagi kepada Allah. Sedangkan seluruh rosul telah berjanji kepada Allah untuk beriman dan menolong misi Muhammad Rasulullah (Qs.Ali-Imran:81) "dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Itulah sedikit keganjalan tentang hadits peristiwa Isro' Mi'roj yang telah menyebar dan dipercaya oleh banyak masyarakat. Apakah hadis-hadis yang demikian ini masih akan diterima dan dipertahankan hanya untuk mempertahankan dalil turunnya perintah Sholat, sementara al-Quran sendiri yang nilai kebenarannya sangat pasti justru tidak berbicara apa-apa tentang hal tersebut ?
Tidak diragukan bahwa Nabi Muhammad pernah melakukan Isra dan Miraj karena hal ini ada didalam al-Quran dan bisa dianalisa secara ilmiah, tidak perlu diragukan pula bahwa Sholat merupakan salah satu kewajiban utama seorang muslim sebab inipun banyak sekali ayatnya didalam al-Quran dan hadis-hadis lain, bahkan sholat merupakan tradisi yang diwariskan oleh semua Nabi dan Rasul dalam semua jamannya. Hanya saja itu tidak berarti kaum muslimin bisa menerima semua riwayat hadis yang isinya secara jelas mempunyai pertentangan dengan al-Quran dan logika, sehingga akhirnya hanya akan menyerahkan akal pada kebodohan berpikir, dan menjadi kesalah kaprahan dalam masyakat, padahal Allah sendiri mewajibkan manusia untuk berpikir dan berdzikir didalam membaca ayat-ayat-Nya.

semoga bermanfaat.....

Alhamdulillahirobbil'alamin....

3 komentar:

Zoppy achmad mengatakan...

Untung tawar menawar e sholat gak nggawe sales...sa'no sales e munggah mudun...heuheuheu

Anonim mengatakan...

artikel liyane kok g isok muncul komentare...

agen pulsa murah mengatakan...

sip.....